Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Prinsip Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) dalam Kurikulum Indonesia

  

Prinsip Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) dalam Kurikulum Indonesia: Panduan Lengkap untuk Guru dan Kepala Sekolah

www.cecepgaos.com


Perubahan zaman menuntut sekolah tidak hanya mengajarkan peserta didik untuk mengetahui sesuatu, tetapi juga mampu memahami, menggunakan, dan merefleksikan apa yang telah dipelajarinya.

Di sinilah konsep Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) menjadi semakin penting dalam pendidikan Indonesia.

Pembelajaran Mendalam bukan sekadar membuat pembelajaran lebih sulit, memberikan lebih banyak tugas, atau meminta peserta didik menghafal materi secara lebih detail. Sebaliknya, pendekatan ini menempatkan peserta didik sebagai pembelajar aktif yang memperoleh pengalaman belajar secara berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menjelaskan Pembelajaran Mendalam sebagai pendekatan yang memuliakan peserta didik melalui penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik dan terpadu.

Dengan demikian, Pembelajaran Mendalam tidak hanya berbicara tentang penguasaan materi pelajaran, tetapi juga tentang bagaimana proses belajar mampu membentuk peserta didik secara utuh.

Lalu, apa saja prinsip Pembelajaran Mendalam? Bagaimana penerapannya di kelas? Dan apa yang dapat dilakukan kepala sekolah agar pendekatan ini tidak berhenti sebagai slogan?

Artikel ini membahasnya secara praktis.

Apa Itu Pembelajaran Mendalam?

Secara sederhana, Pembelajaran Mendalam adalah pendekatan pembelajaran yang membantu peserta didik memperoleh pemahaman yang lebih utuh, menghubungkan pengetahuan dengan konteks kehidupan, menerapkan apa yang dipelajari, dan melakukan refleksi terhadap pengalaman belajarnya.

Dalam kerangka resmi Pembelajaran Mendalam, pendekatan ini tidak berdiri sebagai kurikulum baru yang menggantikan kurikulum sebelumnya. Pembelajaran Mendalam merupakan pendekatan pedagogis yang digunakan untuk memperkuat kualitas proses pembelajaran.

Kerangka Pembelajaran Mendalam mencakup empat komponen utama:

  1. Dimensi profil lulusan

  2. Prinsip pembelajaran

  3. Pengalaman belajar

  4. Kerangka pembelajaran

Dimensi profil lulusan mencakup keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, kreativitas, penalaran kritis, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi.

Sementara itu, prinsip pembelajarannya terdiri atas tiga hal utama:

  • Berkesadaran

  • Bermakna

  • Menggembirakan

www.cecepgaos.com

Pengalaman belajar peserta didik diarahkan melalui proses:

Memahami → Mengaplikasi → Merefleksi

Kerangka tersebut kemudian didukung oleh praktik pedagogis, kemitraan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pemanfaatan digital.

3 Prinsip Utama Pembelajaran Mendalam

1. Berkesadaran

Prinsip pertama adalah berkesadaran.

Berkesadaran berarti peserta didik memiliki kesadaran sebagai pembelajar yang aktif dan mampu meregulasi dirinya. Peserta didik mengetahui apa yang sedang dipelajari, mengapa hal tersebut penting, dan bagaimana strategi yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan belajar.

Dengan kata lain, peserta didik tidak sekadar "mengerjakan tugas guru".

Mereka memahami tujuan di balik aktivitas pembelajaran.

Misalnya, dalam pembelajaran Bahasa Inggris kelas VII, guru tidak hanya mengatakan:

"Hari ini kita akan belajar tentang Daily Activities."

Guru dapat mengawali pembelajaran dengan pertanyaan:

  • Apa saja kegiatan yang kamu lakukan sejak bangun tidur?

  • Kegiatan apa yang paling sering kamu lakukan?

  • Mengapa penting bagi kita mampu menceritakan aktivitas sehari-hari dalam Bahasa Inggris?

  • Apa target yang ingin kamu kuasai pada akhir pembelajaran?

Pertanyaan tersebut membantu peserta didik menyadari tujuan pembelajarannya.

Ciri pembelajaran berkesadaran

Pembelajaran berkesadaran dapat terlihat ketika peserta didik:

  • memahami tujuan pembelajaran;

  • mengetahui apa yang sedang dipelajari;

  • aktif menentukan strategi belajar;

  • mampu memantau perkembangan belajarnya;

  • berani mengidentifikasi kesulitan;

  • mampu meminta bantuan ketika diperlukan;

  • melakukan refleksi terhadap proses belajar.

Guru dapat membangun kesadaran tersebut melalui:

  • tujuan pembelajaran yang jelas;

  • pertanyaan pemantik;

  • jurnal belajar;

  • refleksi singkat;

  • self-assessment;

  • learning checklist;

  • exit ticket.

Jadi, prinsip berkesadaran bukan berarti peserta didik harus selalu duduk tenang atau melakukan aktivitas mindfulness secara formal.

Esensinya adalah kesadaran terhadap proses belajar.

2. Bermakna

Prinsip kedua adalah bermakna.

Pembelajaran bermakna terjadi ketika peserta didik mampu menghubungkan pengetahuan yang dipelajari dengan pengalaman sebelumnya, kehidupan nyata, lingkungan, atau situasi yang relevan.

Pengetahuan tidak berhenti pada kemampuan menjawab soal.

Peserta didik mampu memahami:

"Untuk apa saya mempelajari ini?"

Inilah salah satu perbedaan penting antara pembelajaran yang hanya berorientasi pada penyelesaian materi dengan pembelajaran yang berorientasi pada pemahaman.

Contoh sederhana

Dalam pembelajaran Matematika, misalnya, guru mengajarkan persentase.

Pembelajaran konvensional mungkin berhenti pada:

Hitunglah 20% dari Rp150.000.

Pembelajaran bermakna dapat dilanjutkan dengan konteks:

Sebuah toko memberikan diskon 20% untuk sebuah tas seharga Rp150.000. Berapa harga yang harus dibayar?

Kemudian peserta didik dapat diajak menganalisis situasi lain:

Jika kamu memiliki uang Rp200.000, apakah kamu dapat membeli tas tersebut setelah mendapatkan diskon?

Pembelajaran menjadi lebih dekat dengan kehidupan peserta didik.

Pembelajaran bermakna tidak harus selalu menggunakan teknologi

Ini penting dipahami.

Pembelajaran bermakna tidak identik dengan:

  • menggunakan laptop;

  • menggunakan AI;

  • menggunakan video;

  • menggunakan aplikasi;

  • menggunakan internet.

Teknologi dapat mendukung pembelajaran, tetapi makna pembelajaran ditentukan oleh keterhubungan pengalaman belajar dengan kebutuhan, konteks, dan kehidupan peserta didik.

Guru dapat menciptakan pembelajaran bermakna melalui:

  • masalah nyata;

  • lingkungan sekitar sekolah;

  • pengalaman peserta didik;

  • proyek;

  • studi kasus;

  • simulasi;

  • wawancara;

  • observasi;

  • kolaborasi dengan masyarakat;

  • pemanfaatan sumber belajar lokal.

3. Menggembirakan

Prinsip ketiga adalah menggembirakan.

Pembelajaran yang menggembirakan bukan berarti setiap pembelajaran harus berupa permainan.

Menggembirakan berarti menciptakan suasana belajar yang positif, menyenangkan, menantang, memotivasi, dan membuat peserta didik merasa dihargai.

Dalam pembelajaran seperti ini, peserta didik dapat mengalami keterlibatan emosional yang positif sehingga lebih mudah memahami, mengingat, dan menerapkan pengetahuan.

Apakah pembelajaran menggembirakan berarti guru harus selalu membuat game?

Tidak.

Game hanyalah salah satu metode.

Pembelajaran dapat menggembirakan melalui:

  • diskusi yang menarik;

  • eksperimen;

  • proyek;

  • tantangan;

  • permainan edukatif;

  • kuis;

  • role play;

  • presentasi;

  • eksplorasi lingkungan;

  • penggunaan multimedia;

  • kolaborasi;

  • pilihan tugas yang sesuai minat.

Yang lebih penting adalah peserta didik merasa bahwa dirinya dilibatkan, dihargai, dan memiliki kesempatan untuk berhasil.

Pembelajaran yang menggembirakan juga tetap dapat memiliki tantangan akademik.

Jadi:

Menyenangkan bukan berarti mudah.

Pembelajaran dapat menyenangkan sekaligus menantang.

Memahami Hubungan Ketiga Prinsip

Ketiga prinsip tersebut sebenarnya tidak berdiri sendiri.

Bayangkan sebuah pembelajaran proyek tentang lingkungan sekolah.

Guru mengajak peserta didik melakukan audit sederhana terhadap penggunaan plastik di sekolah.

Berkesadaran

Peserta didik memahami:

"Saya sedang belajar bagaimana masalah lingkungan dapat dianalisis menggunakan data."

Bermakna

Peserta didik menemukan bahwa penggunaan plastik memang terjadi di lingkungan sekolahnya.

Menggembirakan

Peserta didik bekerja dalam kelompok, melakukan observasi, mengolah data, membuat solusi, dan mempresentasikan hasilnya.

Ketiga prinsip tersebut dapat hadir secara bersamaan.

Dokumen resmi Pembelajaran Mendalam juga menjelaskan bahwa penerapan prinsip dapat terjadi secara terpisah maupun simultan dan tidak harus selalu berurutan.

Pembelajaran Mendalam: Memahami, Mengaplikasi, dan Merefleksi

Selain tiga prinsip pembelajaran, guru juga perlu memahami tiga pengalaman belajar utama:

1. Memahami

Pada tahap ini peserta didik membangun pemahaman terhadap konsep, informasi, atau keterampilan yang sedang dipelajari.

Guru dapat menggunakan:

  • eksplorasi;

  • membaca;

  • observasi;

  • demonstrasi;

  • diskusi;

  • eksperimen;

  • penjelasan;

  • pertanyaan pemantik.

Namun, memahami bukan sekadar menghafal.

Peserta didik perlu menunjukkan bahwa mereka benar-benar memahami konsep.

2. Mengaplikasi

Setelah memahami konsep, peserta didik diberi kesempatan untuk menggunakan pengetahuannya.

Misalnya dalam pelajaran Bahasa Inggris, setelah memahami comparative degree:

tall → taller
big → bigger
beautiful → more beautiful

peserta didik tidak hanya mengerjakan soal pilihan ganda.

Mereka dapat membandingkan:

  • dua teman;

  • dua hewan;

  • dua tempat wisata;

  • dua sekolah;

  • dua produk;

  • atau dua objek di lingkungan sekitar.

Dengan demikian, pengetahuan berpindah dari konsep menuju penggunaan.

3. Merefleksi

Tahap refleksi sering kali terlupakan dalam pembelajaran.

Padahal refleksi membantu peserta didik menyadari:

  • apa yang telah dipelajari;

  • apa yang sudah dikuasai;

  • apa yang masih sulit;

  • strategi apa yang berhasil;

  • apa yang perlu diperbaiki;

  • bagaimana pengetahuan tersebut dapat digunakan.

Refleksi tidak harus panjang.

Guru dapat memberikan tiga pertanyaan sederhana:

Hari ini saya belajar...

Hal yang masih membingungkan saya adalah...

Setelah pembelajaran ini, saya dapat menggunakan pengetahuan tersebut untuk...

www.cecepgaos.com

Contoh Implementasi Pembelajaran Mendalam di SMP

www.cecepgaos.com

Mari kita lihat contoh yang lebih konkret.

Misalnya guru Bahasa Inggris mengajarkan materi Daily Activities.

Tujuan pembelajaran

Peserta didik mampu memahami dan menggunakan kosakata serta ungkapan sederhana untuk menceritakan aktivitas sehari-hari.

Tahap 1: Berkesadaran

Guru menampilkan gambar aktivitas sehari-hari.

Peserta didik menjawab:

What do you usually do in the morning?

Guru kemudian menyampaikan tujuan pembelajaran dan kriteria keberhasilan.

Peserta didik mengetahui bahwa pada akhir pembelajaran mereka harus mampu menceritakan rutinitas harian secara sederhana.

Tahap 2: Memahami

Peserta didik mempelajari kosakata:

  • wake up;

  • take a shower;

  • have breakfast;

  • go to school;

  • study;

  • have lunch;

  • play;

  • do homework;

  • have dinner;

  • go to bed.

Peserta didik kemudian mengelompokkan aktivitas berdasarkan waktu.

Tahap 3: Mengaplikasi

Peserta didik membuat My Daily Routine.

Mereka dapat membuat poster digital menggunakan tablet atau membuat kartu aktivitas secara manual.

Kemudian mereka menceritakan rutinitasnya kepada teman.

Tahap 4: Menggembirakan

Guru membuat aktivitas Daily Routine Challenge.

Setiap kelompok mendapatkan kartu aktivitas secara acak dan harus menyusunnya menjadi rutinitas yang logis.

Tahap 5: Merefleksi

Peserta didik menjawab:

What new words did you learn today?

Which activity was the most interesting?

What can you say in English now that you could not say before?

Di sini kita dapat melihat bahwa teknologi, permainan, komunikasi, konteks kehidupan, dan refleksi dapat digabungkan tanpa kehilangan tujuan pembelajaran.

Bagaimana Kepala Sekolah Mendukung Pembelajaran Mendalam?

Pembelajaran Mendalam tidak akan berjalan optimal jika hanya menjadi tanggung jawab guru.

Kepala sekolah memiliki posisi penting sebagai pemimpin pembelajaran.

www.cecepgaos.com

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

1. Membangun visi pembelajaran

Sekolah perlu memiliki pemahaman bersama tentang pembelajaran yang ingin diwujudkan.

Jangan sampai setiap guru memiliki interpretasi berbeda tentang Pembelajaran Mendalam.

Sekolah dapat menyepakati bahwa pembelajaran harus mendorong:

  • pemahaman;

  • penerapan;

  • refleksi;

  • keterlibatan;

  • kolaborasi;

  • karakter;

  • kemampuan berpikir kritis.

2. Menguatkan komunitas belajar guru

Guru dapat melakukan:

  • lesson study;

  • berbagi praktik baik;

  • observasi pembelajaran;

  • diskusi modul ajar;

  • refleksi bersama;

  • peer coaching.

Kepala sekolah dapat memfasilitasi forum tersebut secara rutin.

3. Mengubah supervisi akademik

Supervisi sebaiknya tidak hanya bertanya:

"Apakah guru sudah menyelesaikan materi?"

Tetapi juga:

"Apakah peserta didik memahami tujuan belajarnya?"

"Apakah peserta didik memperoleh kesempatan mengaplikasikan pengetahuan?"

"Bagaimana peserta didik melakukan refleksi?"

"Apakah lingkungan belajar memberikan rasa aman dan kesempatan untuk berkembang?"

Pertanyaan tersebut membuat supervisi lebih berorientasi pada kualitas pengalaman belajar.

4. Mengoptimalkan teknologi

Teknologi dapat digunakan untuk:

  • eksplorasi;

  • kolaborasi;

  • simulasi;

  • asesmen;

  • dokumentasi;

  • refleksi;

  • personalisasi pembelajaran.

Namun prinsipnya sederhana:

Teknologi harus melayani tujuan pembelajaran, bukan sebaliknya.

Penggunaan AI, tablet, Chromebook, Google Sites, LMS, video, maupun aplikasi pembelajaran akan lebih bermakna apabila memang membantu peserta didik memahami, mengaplikasikan, atau merefleksikan pembelajaran.

Bagaimana Merancang Pembelajaran Mendalam?

Guru dapat menggunakan formula sederhana berikut:

1. Tentukan tujuan

Apa yang benar-benar harus dipahami peserta didik?

2. Tentukan konteks

Mengapa pengetahuan tersebut penting bagi peserta didik?

3. Rancang pengalaman memahami

Aktivitas apa yang membantu peserta didik membangun konsep?

4. Rancang pengalaman mengaplikasi

Bagaimana peserta didik menggunakan pengetahuan tersebut?

5. Rancang refleksi

Bagaimana peserta didik menyadari perkembangan belajarnya?

6. Integrasikan asesmen

Bagaimana guru memperoleh bukti bahwa tujuan pembelajaran tercapai?

7. Pilih teknologi bila diperlukan

Teknologi apa yang benar-benar memberikan nilai tambah?

Dengan alur tersebut, guru tidak perlu memulai dari aplikasi.

Guru memulai dari tujuan dan pengalaman belajar peserta didik.

Contoh Checklist Pembelajaran Mendalam untuk Guru

www.cecepgaos.com


Sebelum mengajar, guru dapat menggunakan checklist sederhana berikut:

PertanyaanYa/Tidak
Apakah tujuan pembelajaran dipahami peserta didik?
Apakah peserta didik mengetahui manfaat materi?
Apakah materi terhubung dengan kehidupan nyata?
Apakah peserta didik aktif membangun pengetahuan?
Apakah peserta didik memperoleh kesempatan mengaplikasikan konsep?
Apakah terdapat tantangan yang sesuai?
Apakah suasana pembelajaran positif?
Apakah peserta didik memperoleh kesempatan bekerja sama?
Apakah teknologi digunakan secara tepat?
Apakah terdapat aktivitas refleksi?
Apakah asesmen memberikan informasi tentang perkembangan belajar?

Checklist ini dapat dikembangkan menjadi instrumen refleksi guru atau bahan diskusi dalam komunitas belajar sekolah.

Kesalahan yang Perlu Dihindari

Implementasi Pembelajaran Mendalam juga perlu dilakukan secara proporsional.

Beberapa miskonsepsi yang perlu dihindari antara lain:

1. Menganggap deep learning berarti materi harus dibuat lebih sulit

Tidak selalu.

Pembelajaran Mendalam berfokus pada kualitas pemahaman dan pengalaman belajar, bukan sekadar meningkatkan tingkat kesulitan materi.

2. Menganggap harus selalu menggunakan teknologi

Tidak.

Teknologi merupakan salah satu bagian dari kerangka pembelajaran, bukan tujuan utama.

3. Menganggap pembelajaran menggembirakan harus selalu berupa permainan

Tidak.

Diskusi, proyek, eksperimen, pemecahan masalah, presentasi, dan kegiatan kontekstual juga dapat menggembirakan.

4. Terlalu banyak aktivitas tetapi minim pemahaman

Kelas yang ramai belum tentu menunjukkan pembelajaran mendalam.

Yang perlu dilihat adalah apakah aktivitas tersebut membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran.

5. Mengabaikan refleksi

Peserta didik perlu diberi ruang untuk memahami proses belajarnya sendiri.

Peran Asesmen dalam Pembelajaran Mendalam

Pembelajaran dan asesmen perlu dirancang secara terintegrasi.

Asesmen bukan hanya kegiatan yang dilakukan setelah pembelajaran selesai.

Guru dapat menggunakan:

  • asesmen diagnostik;

  • asesmen formatif;

  • observasi;

  • pertanyaan lisan;

  • kuis;

  • proyek;

  • portofolio;

  • unjuk kerja;

  • presentasi;

  • refleksi;

  • asesmen sumatif.

Yang penting adalah asesmen memberikan informasi yang relevan dengan tujuan pembelajaran.

Misalnya tujuan pembelajaran adalah peserta didik mampu melakukan presentasi dalam Bahasa Inggris.

Jika asesmen hanya berupa 20 soal pilihan ganda tentang vocabulary, bukti pencapaian tujuan belum sepenuhnya lengkap.

Guru perlu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk benar-benar menggunakan Bahasa Inggris dalam konteks komunikasi.

Pembelajaran Mendalam dan Pendidikan Karakter

Salah satu kekuatan pendekatan ini adalah peluang untuk mengembangkan peserta didik secara holistik.

Pembelajaran tidak hanya mengejar kemampuan kognitif.

Dalam kerangka Pembelajaran Mendalam, terdapat dimensi profil lulusan yang mencakup keimanan dan ketakwaan, kewargaan, kreativitas, penalaran kritis, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi.

Artinya, pembelajaran dapat dirancang agar peserta didik sekaligus mengembangkan:

  • kemampuan berpikir;

  • karakter;

  • komunikasi;

  • kolaborasi;

  • kemandirian;

  • kreativitas;

  • kesehatan;

  • kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.

Misalnya proyek tentang sampah sekolah.

Peserta didik dapat:

  • mengumpulkan data;

  • menghitung volume sampah;

  • membuat grafik;

  • mendiskusikan dampaknya;

  • membuat kampanye;

  • menyusun solusi;

  • mempresentasikan hasil;

  • melakukan refleksi.

Satu konteks dapat mengintegrasikan berbagai kompetensi.

Inilah salah satu semangat pembelajaran yang holistik.

Pembelajaran Mendalam Bukan Sekadar Tren

Bagi guru dan kepala sekolah, penting untuk melihat Pembelajaran Mendalam bukan sekadar istilah baru dalam dunia pendidikan.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apakah peserta didik benar-benar belajar?

Bukan sekadar:

Apakah materi sudah selesai?

Bukan pula sekadar:

Apakah nilai sudah diperoleh?

Pembelajaran yang berkualitas seharusnya membantu peserta didik memahami sesuatu, menggunakan pengetahuannya, dan menyadari apa yang telah dipelajari.

Karena itu, transformasi pembelajaran tidak selalu harus dimulai dengan perubahan besar.

Guru dapat memulainya dari satu pertanyaan sederhana:

"Apa yang akan benar-benar dialami dan dipelajari peserta didik dalam pembelajaran hari ini?"

Kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan:

"Apakah pembelajaran ini berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan?"

www.cecepgaos.com

Kesimpulan

Prinsip Pembelajaran Mendalam dalam Kurikulum Indonesia bertumpu pada tiga prinsip utama, yaitu berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.

Ketiganya tidak sekadar menjadi konsep teoritis, tetapi dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari.

Guru dapat menerapkannya dengan menciptakan pengalaman belajar yang membantu peserta didik:

Memahami → Mengaplikasi → Merefleksi.

Sementara itu, kepala sekolah dapat mendukung implementasinya melalui kepemimpinan pembelajaran, komunitas belajar, supervisi akademik yang berorientasi pada proses belajar, pengembangan kompetensi guru, lingkungan belajar yang positif, dan pemanfaatan teknologi secara tepat.

Pada akhirnya, keberhasilan Pembelajaran Mendalam bukan diukur dari seberapa banyak istilah baru yang digunakan dalam perangkat pembelajaran.

Keberhasilannya lebih terlihat ketika peserta didik mampu mengatakan:

"Saya memahami apa yang saya pelajari, saya tahu mengapa hal itu penting, saya mampu menggunakannya, dan saya tahu apa yang harus saya lakukan setelah belajar."

Itulah pembelajaran yang meninggalkan jejak.

Bagi guru, perubahan dapat dimulai dari satu kelas. Bagi kepala sekolah, perubahan dapat dimulai dari budaya belajar di sekolah. Dan ketika keduanya bergerak bersama, pembelajaran dapat benar-benar menjadi pengalaman yang bermakna bagi peserta didik.

Jika artikel ini bermanfaat, silakan bagikan kepada rekan guru atau kepala sekolah lainnya. Anda juga dapat membaca artikel terkait tentang implementasi Pembelajaran Mendalam, asesmen, dan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran.

Daftar Pustaka

  • Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. (2025). Pembelajaran Mendalam. Sistem Informasi Kurikulum Nasional.
  • Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. (2025). Perencanaan Pembelajaran Mendalam: Edisi Revisi Tahun 2025. Pusat Kurikulum dan Pembelajaran.
  • Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. (2025). Naskah Akademik Pembelajaran Mendalam.
  • Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. (2025). Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 13 Tahun 2025.
  • Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. (2026). Pembelajaran Mendalam: Transformasi Pembelajaran Menuju Pendidikan Bermutu. Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan, 18(1).
  • Raup, A., Ridwan, W., Khoeriyah, Y., Supiana, & Zaqiah, Q. Y. (2022). Deep Learning dan penerapannya dalam pembelajaran. JIIP – Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 5(9), 3258–3267.

Post a Comment for "Prinsip Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) dalam Kurikulum Indonesia"